BUDIDAYA DAN PENGEMBANGAN TANAMAN KARET


BUDIDAYA DAN PENGEMBANGAN TANAMAN KARET

            Karet akan baik pertumbuhannya jika ditanam di daerah yang memiliki ketingian 0 – 400m diatas permukaan laut dengan kemiringan tanah maksimal 45`. Jika ditanam diatas ketinggian 400m diatas permukaan laut maka pertumbuhannya akan terhambat apalagi ditanam di ketinggian diatas 600m biasanya tanahnya mulai kritis, hasil yang diperoleh sangat rendah, mudah terserang penyakit walaupun dirawat dengan baik. Meskipun ditanam pada ketinggian 0 – 400m diatas permukaan laut kalau tanahnya bekas sawah atau tergenang air maka pertumbuhannya tetap tidak bagus.

            Tanaman karet membutuhkan curah hujan 1500 – 4000mm pertahun merata sepanjang tahun, yang terbaik adalah antara 2500 - 4000mm dengan 100 – 150mm hujan perhari. System penanaman karet harus direncanakan sebaik-baiknya untuk mendapatkan hasil yang baik juga. Maka diperlukan system penanaman yang sesuai. Ada dua system penanaman karet, monokultur dan tumpang sari. System tumpang sari harus direncanakan dari semula denga jarak tanam harus sesuai, kalau tidak akan menyebabkan tanaman terlalu rapat dan akibatnya terjadi persaingan penyerapan unsure hara. Pada umumnya system tumpang sari ini pada tanaman yang perakarannya sama misalnya karet + kopi, karet + cengkeh, karet + lada, karet + kakao. Tumpang sari karet dengan sawit sering dilakukan oleh petani-petani di pedalaman yang pada umumnya tidak menggunakan pupuk yang baik sehingga tampak terlihat persaingan yang sangat menonjol terhadap unsure hara dan intensitas penyinaran matahari, sehingga banyak tumbuhan kerdil pertumbuhannya, batangnya tidak normal dan sebagainya.

TANAMAN PERMANEN (PERMANENT TREES)

Penunasan (pruning)

Prunning pada tanaman karet sebelum menghasilkan, bertujuan untuk membuntuk tajuk dengan cabang-cabang yang seimbang pada ketinggian yang di inginkan. Penunasan dilakukan secara teratur dan bertahap sehingga tidak menggangu pertumbuhan tanaman. Pemotongan cabang harus dilakukan serapat mungkin pada batang.

  1. Tanaman Klon dan Semaian ( Seedling )

Pada kebanyakan tanaman karet baik klon ataupun semaian, cabang-cabang telah terbentuk pada bawah batang. Untuk mendapatkan bidang sadap yang baik supaya dapat melakukan penyadapan yang maksimal, maka batang tanaman harus bebas tahap penunasannya sebagai berikut :

-          Tunas-tunas pada ketinggian kurang dari 170cm
Mulai dari saat penanaman, tunas dan cabang-cabang pada batang yang tumbuh pada ketinggian kurang dari 170cm dari tanah harus dibuang secara teratur setiap bulan.

-          Tunas-tunas diatas 170cm
Tunas-tunas yang akan berkembang menjadi cabang-cabang yang membentuk kelompok-kelompok cabang yang melingkar pada cabang. Cabang-cabang ini akan dibuang secara bertahap sampai pada ketinggian 300cm dari tanah. Pada ketinggian 170 – 300cm ini, hanya batang yang telah mempunyai tiga tingkat daun dengan helai daun yang mengeras saja yang boleh dipotong.

  1. Pembuang cabang dimulai dari cabang yang terbawah atau yang paling besar dari kelompok cabang yang terendah. Pada setiap pusingan penunasan, jumlah maksimal cabang sebelum dilakukan penunasan pertama. Pemotongan cabang dilakukan sedemikian rupa sehingga terbentuk tajuk dengan cabang-cabang yang seimbang. Pusingan penunasan yang berikutnya dilakukan satu bulan dari penunasan terdahulu pada cabang yang telah memenuhi syarat tersebut diatas.
  2. Setelah semua cabang dari kelompok cabang terendah dibuang, penunasan dapat diteruskan pada kelompok cabang berikutnya yang lebih atas dari cara yang sama. Cabang-cabang yang terletak diatas 300cm dari tanah dibiarkan tumbuh tidak bertunas. Bekas potongan, bila cabangnya yang dipotong tersebut agak besar agat diberi coalter.
  3. Setelah hal diatas dilaksanakan. Apabila terdapat cabang-cabang yang tidak seimbang yang menyebabkan pohon doyong, maka sebagian (kalau bisa cabangnya saja) dipotong lebih kurang 30cm dari percabangan. Demikian juga yang tidak ada top leadernya, maka dilakukan pemotongan sebagian cabang agar tinggi satu cabang induk sebagai top leader ( hal ini jarang ditemukan).

  1. Tanaman Stump Tinggi ( Tall Stump )

Tanaman Stump tinggi dapat berasal dari okulasi (stumped budding) atau dari semaian (stumped seedling)

-          Semua tunas yang tumbuh pada ujung stump mula-mula dibiarkan tumbuh dan semua tunas dibawah lingkaran tunas teratas dibuang. Bila daun dari tunas-tunas telah mengeras, maka dipilih tiga tunas terkuat yang letaknya menyebar sehinga akan terbentuk tajuk dengan cabang-cabang yang seimbang. Tunas-tunas yang lain dibuang.
-          Ketiga tunas tersebut dibiarkan tumbuh sampai masing-masing membentuk tiga tingkat daun dengan helai daun yang telah mengeras. Kemudian dipilih satu cabang terkuat untuk menjadi leader dan 2 cabang lainnya dibuang.
-          Ketinggian tall stump ini bervariasi. Untuk tall stump yang rendah misalnya kurang dari 1,5m, setelah leader terbentuk maka semua tunas-tunas yang terbentuk pada leader ini dibiarkan tumbuh. Setelah tunas membentuk tiga tingkat daun dengan helai daun yang mengeras, tunas dibuang secara bertahap seperti yang disebutkan diatas.
-          Apabila karena suatu hal misalnya patah atau karena penyakit, sehingga cabang utama (leader) hilang, maka pilih satu cabang terkuat untuk dibiarkan tumbuh sebanagi leader dengan cabang-cabang lainnya dipotong sehingga hanya tertinggal sepanjang 10cm saja dari batang.
-          Kalau lingkaran tunas teratas tidak tumbuh karena kerusakan ujung stump, maka cabang dipilih dari tunas-tunas pada lingkaran tunas bawah.

  1. Induksi cabang (Branch Induction)

Pada jenis klon-klon tertentu misalnya GT1, RRIM 600 aatau tanaman semaian sering tidak terbentuk cabang, maka perlu dilakukan tindakan untuk merangsang pertumbuhan cabang.
Untuk merangsang pertumbuhan cabang dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

-          Melipat daun pucuk (folding)
Bila sampai ketinggan 175cm tidak terbentuk cabang, maka titik tumbuh batang ditutup dengan cabang meliputi daun bagian atas dan mengikatnya dengan karet. Pelipatan dilakukan bila semua daun pada paying teratas tersebut telah mengeras. Lipatan diperiksa setiap minggu pada musim penghujan atau setiap dua miggu pada musim kemarau. Bila tunas-tunas telah tumbuh, maka lipatan dibuka. Apabila tunas tidak tumbuh, penutupan titik tumbuh diulangi lagi pada payung berikutnya.
-          Pemotongan batang (topping)
Apabila sampai pada ketinggian 3m tidak terbentuk cabang, maka dilakukan pemotongan batang tanam (topping) pada ketinggian 310cm. cabang yang dihasilkan dibiarkan tumbuh dan tidak bertunas. Topping agar dilakukan pada musim penghujan. Jangan dilakukan pada musim kemarau.
Selain system folding tersebut diatas, ada juga yang lebih baik yaitu system utrimuing yaitu daun muda yang baru muncul pada ketinggian diatas 175cm agar dipotong daunnya dengan setengah, kecuali pucuknya.

  1. Dengan system pruning dan branch induction
maka pertambahan girth (lingkar batang) akan cepat, sehingga dapat cepat dideres, yang berarti mempersingkat masa TBM (tanaman belum menghasilkan) selain itu mencegah pokok doyong atau tumbang. Hal tersebut berarti penghematan biaya dan cepat mendapatkan produksi.
Biasanya untuk budgraft umur 4 - 4,5 tahun sudah dapat dideres.





Read more »»  

PRUNING KELAPA SAWIT

13.57 by septian nugroho 0 komentar

PRUNING KELAPA SAWIT

Pendahuluan

Berdasarkan percobaan-percobaan yang telah dilakukan di beberapa tempat, diketahui bahwa semakin banyak pelepah kelapa sawit pada tanaman maka akan semakin tinggi buah yang akan dihasilkan oleh tanaman tersebut. Hal ini disebabkan karena semakin banyak daun maka proses fotosintesis akan semakin besar terjadi.

Berdasarkan alasan diatas, akan sangat menguntungkan apabila pembuangan pelepah kelapa sawit dilakukan seminimal mungkin selama masa produksi.

Pembuangan pelepah yang berlebihan akan menyebabkan bertambahnya jumlah bunga jantan dan dengan sendirinya akan mengurangi jumlah dan berat tandan buah yang dihasilkan.

Akan tetapi jika pembuangan tidak dilakukan, maka akan timbul kesulitan pada saat memanen tandan buah. Oleh karena itu perlu diambil  langkah kebijaksanaan sebagai berikut :

  1. Pruning untuk sanitasi
Pruning pertama dilakukan bersamaan dengan waktu pelaksanaan kastrasi. Hanya pelepah kering saja yang dibuang. (umur 17 bulan atau 19 bulan).
  1. Pruning Pertama
Pruning pertama dilakukan sebelum pemanenan (harvesting) pertama. Semua pelepah yang berada di bawah tandan buah yang terendah dibuaang sehingga tandan buah yang terendah tersebut tidak perlu memiliki sangga buah.
Setelah pruning pertama, tidak dilakukan lagi pruning sampai tanaman berumur 4 tahun tau sampai tandan buah yang terendah tinggi 1m dari permukaan tanah.
  1. Pruning pada umur 4 tahun.
Ketika tanaman telah berumur 4 tahun dan tandan buah terendah berada pada ketinggian 1m dari tanah, maka pruning dapat dilakukan mengingat saat ini cukup banyak pelepah yang harus dibuang sehingga jika dilakukan pruning sejaligus akan menyebabkan beban berat (stress) pada tanaman tersebut. Oleh karena itu, pruning harus dilakukan dalam dua tahap sebagi berikut.
    1. jika terdapat 8 lingkaran pelepah (spiral),  maka pruning pertama hanya dibuang 4 lingkaran pelepah saja.
    2. 2 – 3 bulan kemudian, 4 lingkaran pelepah tersebut dibuang dengan syarat pruning hanya dilakukan sampai 2 pelepah dibawah tandan  buah yang masak ( 2 sangga buah ).
  1. Pruning pada umur 5 – 7 tahun.
Pruning dilakukan sekali dalam setahun.
Harap diperhatikan setelah pruning dan pemanenan dilakukan pelepah yang masih tertinggal harus berjumlah antara 48 – 64 pelepah pada pokok-pokok yang sedang mengalami fase bunga jantan.
Puring dilakukan hanya sampai 2 pelepah dibawah tandan buah yang masak (2 sangga buah)
Untuk pelaksanaan pruning, agar digunakan system progressive pruning.
  1. Pruning pada umur 8 – 14 tahun.
Dilakukan seperti butir 4 diatas, akan tetapi jumlah  pelepah yang tinggal setelah pruning/pemanenan adalah 40 – 48 pelepah atau 5 – 6 pelepah perspiral.
  1. Pruning umur 15 tahun.
Dilakukan seperti butir 4 diatas, akan tetapi jumlah pelepah yang tinggal setelah pruning/ pemanenan adalah 32 pelepah atau 4 pelepah perspiral

7. Sistem Progressive Pruning
Yang dimaksud dengan sistem Progressive Pruning adalah Pruning dilakukan secara bertahap dan terus-menerus sepanjang tahun, pelapah yang lebih dari jumlah yang telah ditetapkan di atas raja yang dibuang :

5 - 7 tahun 48 - 64 pelepah
8 - 14 tahun 40 - 48 pelepah
15 tahun ke atas 32 pelepah
Pelaksanaan dari Progressive Pruning ini dilakukan oleh satu kelompok yang terdiri dari beberapa orang dan kelompok ini bertugas sebagai pruners terns mencrus sepanjang tahun.
Mengenai jumlah pemakaian tenaga per hektar per tahun dengan menggunakan sistem ini tidak melebihi jumlah tenaga yang dipakai pads sistem lama yaitu : maksimum 3 orang per hektar per tahun.
- Sebaiknya setiap blok dilakukan rotasi pruning sekali sebulan atau sekali dug bulan tergantung kapada kondisi setempat.
Keuntungan dari sistem ini adalah untuk mengurangi stress tanaman pruning dilakukan secara sedikit demi sedikit dan terbagi rata dalam satu tahunnya. Secara agronomi hal ini akan sangat menguntungkan.

Keterangan Umum
-        Pemanen harus diberi instruksi agar hanya memotong pelepah seminimal mungkin.
Pads waktu melakukan pusingan pruning pelepah yang dibuang hanyalah pelepah yang lebih dari jumlah yang telah ditetapkan di etas dan pelepah yang mulai keying.
-           Pruning harus diusahakan dilakukan pads musim hujan (jika menggunakan sistem biases).
Untuk melakukan pruning pads pokok-pokok yang sedang dalam mass Ease bungs jantan, perhitungan pelepahnya harus dilakukan oleh Mandor atau Asisten sebelum pruning dilakukan oleh karyawan.
- Setiap melakukan pusingan pruning pembersihan (sanitation), buah-buah yang sudah tua dan busuk harus sekahgus dibuang.

Perhatian khusus harus diberikan pads tanaman muds, jugs kemungkinan terdapatnva Marasmins dan Thirataba, cukup besar sehingga buah-buah yang terserang hama dan penyakit tersebut harus dibuang.


3.1. Keamanan

Hares diasumsikan bahwa semua herbisida adalah racun dan dapat diabsorpsi oleh kulit. Karma itu penggunaannya harus, sangat hati-hati. Racun bahan kimia ini harus diantisipasi dengan memakai sarung tangan yang kedap air. Jika terkena kulit, harus segera dibasuh dengan air sebanyak-banyaknya.
Namun harus tetap bisa dibedakan antara penggunaan praktis dan keamanan dan kenyamanan penggunaan.
Jika menggunakan penyemprot, kaki dapat hasah karma tetesan dari nozzle atau gulma yang sudah disemprot. Penggunaan sepatu boot dapat mencegah ini, dan sebaiknya sepatu dicuci setup hari di dalam dan di luarnya. Untuk menghindari penyaldt kulit di punggung karma tetesan larutan dari tangki, sebaiknya segera penyemprotan pekerja langsung mandi.
Di lain sisi, penggunaan kaca mate pelindung harus dilakukan terutama bile penyemprotan mengarah ke atas. Bila menggunakan bahan tertentu hams menggunakan sarung tangan. Juga perlu penggunaan rompi khusus agar pekerja mudah dikontrol dari jauh.
3.2. Penyemprotan
Alat ini paling mudah digunakan dan murah harganya. Alat ini bisa digunakan untuk bahan solusi atau suspensi. Aslinya, alat, ini terbuat dan bahan besi tetapi kemudian berkembang dari bahan plastik. Bagian tutup tangki memiliki saringan . Tangki digantung di punggung kemudian tekanan penyemprotan diperoleh dari pompa yang bisa dipindahkan ke kanan atau kiri. Larutan herbisida mengalir melalui pipe dan katup pengontrol melalui nozzle membentuk tetesan halus, seperti embun. Leber penyemprotan tergantung pada jenis nozzle dan tekanan yang dibuat.

- Glyphosate (Roundup, Tumbleweed)

Glyphosate adalah non reside, racunnya lebih rendah dari paraquat, namun dapat mengendalikan rumpus tahunan. Anjuran pabrik adalah penggunaan 1 hingga 5 kg bahan aktif per hektar. Efek racun tidak ada pada tanaman menghasilkan namun harus dijauhkan dari bibit. Dalam penggunaan komersil, racun ini sangat gampang larut dan bisa digunakan pada penyemprot volume sangat rendah.

Catatan : Hindart pembersiahan dengan Herbisida pada
            tanaman yang belum menghadikan, dapat
              beraldbat fatal dan mengalaint kematlan pada  tanaman jenis tertentu

Imperata Cylindrica (Cogon, Alang- Alang)
Lalang tumbuh di berbagai tempat, di daerah yang tidak ditanami, di bekas lahan pembakaran, bahkan di lahan yang tanaman lain sulit untuk hidup. Perkembangannya bisa dibantu oleh hewan ataupun angin karena bijinya sangat ringan clan dapat bertahan hidup cukup lama. Terutama karena akarnya di dalam tanah berkembang sambung menyambung sebagai stolon. Lalang kering sangat mudah terbakar, sumber api bisa berasal dari manusia ataupun petir. Tempest koloni lalang tumbuh akan dapat menyebabkan tumbuhan lain terhambat atau mati karena akar lalang mengeluarkan sejenis ratan kimia. Ribuan hektar hamparan lalang akan sulit untuk dibasmi. Karena lalang sangat kuat bersaing dalam memperoleh N dan air, make sawit muda yang disaingi dapat memucat dan pertumbuhannya terhambat.
Menggunakan garpu, lalang muda dapat dicabut hingga ke akarnya. Ini cara yang paling praktis dilakukan untuk membunuh lalang. Di perkebunan, bila lalang dijumpai di lapangan, makes orang yang bertanggung jawab akan mendapat teguran.
Sekarang, beberapa cara pemberantasan lalang tidak lagi digunakan karena banyak cara lain yang lebih mudah clan biaya murah.
Lalang butuh sinar matahaii penuh karenanya jarang dijumpai tumbuh di bawah sawit dewasa. Mesidpun begitu, bila ads lalang tumbuh bisa dijadikan indikasi bahwa sawit tersebut perlu perawatan khsusus, misalnya penambahan pupuk. Penggunaan k-imia gluphosate sangat efektif untuk memberantas lalang, namun bila daerahnya terlalu lugs, biayanya, akan mahal dan bisa mempengaruhi sawit muda. Kacangan yang terkena semprot akan ikut mati, namun segera tumbuh lagi. Kadang kale dengan cara melindas, pertumbuhan lalang dapat dihambat.
Bibit sawit tidak boleh ditanam di tempat lalang tumbuh. Lahan hares dibersihkan dahulu clan bila perlu digali dan dikeringkan, biasanya diikuti dengan pemadatan. Di daerah lain yang tanahnya subur dan kaya unsur hare, pengembangan kaeangan penutup tanah sangat berguna menghambat lalang.


Read more »»  

Tentang Kelapa Sawit

13.30 by septian nugroho 0 komentar

PEMUPUKAN DI PASAR MATI

Bagaimana Jika Pada Tanaman Kelapa Sawit Pupuk Diberikan di Bawah Tumpukan Pelepah/Pasar Mati?
Selama ini pemupukan pada tanaman kelapa sawit diberikan pada daerah piringan tanaman, padahal dalam membersihkan gulma dari sekeliling batang kelapa sawit yang disebut dengan piringan cukup memakan biaya. Pembuatan piringan dengan cara membabat kandas gulma secara manual dapat berbiaya Rp.1000 - Rp.2000 / piringan, sedangkan dengan menyemprotkan herbisida kontak dapat mencapai Rp.600 - Rp.1000. dan sering dikabarkan penggunaan herbisida dapat mengakibatkan stressnya tanaman. Padahal jika ditinjau dari daerah yang akar tersier/kuarter/rambut akar kelapa sawit yang paling banyak adalah di daerah ujung kanopi daun, itu adalah berada di daerah bawah tumpukan pelepah pada pasar mati. Di bawah tumpukan pelepah 99% bebas dari gulma, maka alasan apa yang dapat menolak pendapat bahwa pemupukan yang paling baik diberikan di bawah tumpukan pelepah tersebut dengan bantuan sebuah pipa untuk meluncurkan pupuk? Mohon pendapat anda..

 

 

 

 

BUAH SAWIT “BUNGA”


Pernahkah anda melihat buah sawit yang seperti ini?
Ini adalah gambar dari buah sawit yang memiliki bentuk yang unik, karena setiap unit buahnya seperti dikelilingi oleh 6 buah lainnya yang menyatu. Bentuk buah tersebut adalah bersifat permanen, yaitu setiap buah yang ada akan berbentuk seperti foto diatas.


KELAPA SAWIT

Latar Belakang

Kelapa Sawit (Elaeis guinensis jacq) adalah salah satu jenis tanaman dari famili palma yang menghasilkan minyak nabati yang dapat dimakan (edible oil). Selain dari kelapa sawit, minyak nabati juga dapat diperoleh dari tanaman kelapa, kacang kedelai, bunga matahari, kacang tanah, dan lainnya. Dari sekian banyak tanaman yang menghasilkan minyak dan lemak, kelapa sawit adalah tanaman yang produktifitas menghasilkan minyak tertinggi, dimana tanaman kelapa hanya menghasilkan sepertiga (700-1000 kg daging buah kelapa/ha) dari produksi kelapa sawit (2000/3000 kg TBS/ha)

Buah kelapa sawit seberat 45 kg/tandan

Minyak sawit digunakan sebagai bahan baku minyak makan, margarin, sabun, kosmetik, industri baja, kawat, radio, kulit dan industri farmasi. Minyak sawit dapat digunakan untuk begitu beragam peruntukannya karena keuunggulan sifat yang dimilikinya yaitu tahan oksidasi dengan tekanan tinggi, mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya, mempunyai daya melapis yang tinggi dan tidak menimbulkan iritasi dalam bidang kosmetik

Kelapa sawit saat ini telah menjadi pionir dalam dunia pertanian di Indonesia, hal itu dikarenakan telah terjadinya peningkatan harga TBS yang luar biasa, yaitu mencapai Rp.1.550/kg TBS. Meskipun kenaikan harga TBS juga turut diikuti oleh kenaikan harga input produksi seperti pupuk, tenaga kerja, pestisida dan alsintan, tetapi secara total peningkatan harga TBS tetap memberikan tambahan pendapatan yang sangat menguntungkan para pekebun.

BIOLOGI TANAMAN KELAPA SAWIT

Tanaman penghasil minyak nabati terdapat 3 jenis, yaitu Elaeis guinensis jacq, Elaeis oleifera atau Elaeis melanocca dan Elaeis odora atau Barcella odora (Corley, 1976). Kelapa sawit yang banyak ditanam di Indonesia adalah berasal dari Afrika.
Beberapa varietas kelapa sawit adalah: Dura, Pisifera, Tenera, Macro carya, dan Dwikka wakka.
Penggolongan varietas berdasarkan ketebalan tempurung dan daging buah menurut Hutgers dan Yampolski:

1. Varietas Macrocarya = type Congo

tebal tempurung 4-8 mm
daging buah 30-50 %
tempurung/buah 20-40 %
inti 10 %


2. Varietas Dura = type Deli

tebal tempurung 2-5 mm
daging buah 50-70 %
tempurung/buah 20-40 %
inti 10 %


3. Varietas Tenera = type Lesobe

tebal tempurung 0,5-2,5 mm
daging buah 70-85 %
tempurung/buah 5-20 %
inti 8-10 %
pohon kelapa sawit tenera

4. Varietas Pisifera

tebal tempurung +- 0 mm
daging buah 85-100 %
tempurung/buah +- 0 %
inti 0-5 %




pohon kelapa sawit varietas pisifera




















Penggolongan kelapa sawit berdasakan warna buah menurut Vanderwejn

1. Nigrescens

Buahnya berwana hitam pada saat masih muda dan berubah menjadi orange kehitam-hitaman pada saat buah matang.
Buah sawit Nigrescens


2. Virescens

Buahnya berwana hijau pada saat masih muda dan berubah menjadi orange pada saat buah matang.
Buah sawit Virescens

3. Albescens

Buahnya berwana keputih-putihan pada saat masih muda dan berubah menjadi kekuning-kuningan pada saat buah matang.


EKOLOGI KELAPA SAWIT

Tanaman kelapa sawit dapat hidup dengan baik pada daerah 15"LU-15"LS, yaitu dekat daerah edar garis katulistiwa. Ketinggian lahan yang ideal adalah pada ketinggian 0-500 m dpl. Curah hujan yang sesuai adalah 2.000-2.500 mm/tahun. Suhu optimum adalah 29-30"C. Intensitas penyinaran adalah 5-7 jam/hari. Kelembaban yang ideal adalah 80-90%. Kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada jenis tanah Podsolik, Latosil, Hidromorfik kelabu, Alluvial atau Regosol. Nilai pH optimum adalah 5-5,5. Perkebunan kelapa sawit baik dibangun pada tanah yang gembur, subur, datar (tidak lebih dari 15", berdrainase yang baik, dengan lapisan solum yang dalam.

Perbanyakan Tanaman

Tanaman kelapa sawit dapat diperbanyak dengan dua cara, yaitu generatif dan vegetatif buatan. Secara generatif, tanaman kelapa sawit diperbanyak dari biji yang terdapat dalam butiran buah sawit, dan secar generatif buatan kelapa sawit diperbanyak dengan cara kultur jaringan.

Produksi Benih

Benih kelapa sawit yang sering digunakan pada perkebunan kelapa sawit adalah hasil persilangan dari varietas Dura Deli (betina) dengan varietas Pisifera (jantan). Hasil persilangan dari varietas Dura dan Pisifera akan menghasilkan anakan yang bervarietas Tenera. Kelapa sawit varietas Tenera menjadi tujuan dari kegiatan persilangan karena kelebihan yang dimilikinya, yaitu: daging buah lebih tebal, ukuran buah lebih besar, kandungan minyak lebih tinggi, peluang kematangan buah yang sangat tinggi, dan berat buah cukup tinggi.

Untuk kegiatan pembibitan, penyerbukan biasanya dillakukan secara manual, yaitu dilakukan oleh manusia. Serbuk Sari dari bunga jantan (varietas Pisifera) diambil dengan cara memotongnya atau menepuk-nepukkannya pada kantong plastik agar tepung sari terkumpul dalam kantong plastik. Tepung sari (pollen) yang telah didapatkan kemudian dicampur dengan talk murni dengan perbandingan 1:1. Campuran tepung sari dan talk tersebut dimasukkan kedalam baby duster atau alat lainnya yang dapat menghembuskan tepung ke bunga betina. Setelah tepung sari ditaburkan/dihembuskan ke bunga betina (kepala putik) maka bunga betina tersebut ditutup dengan kantong kertas / plastik agar bunga betina tidak terkontaminasi dengan serbuk sari kelapa sawit tidak jelas asal usulnya yang sangat banyak beterbangan di udara. Setelah penyerbukan terjadi maka bunga betina akan matang setelah 6 bulan kemudian.

Perbanyakan kelapa sawit dengan cara penyilangan ternyata memiliki kelemahan yang sangat nyata, yaitu hasil persilangan tidak 100% menjadi bibit yang bervarietas tenera, umumnya tingkat keberhasilannya hanya dapat mencapai 75 %. Bayangkan saja jika ada 1 juta bibit yang di produksi, maka akan ada 250.000 bibit yang bervarietas Dura, Pisifera atau abnormal. Jika biaya tanaman dari benih sampai tanaman di tebang (25 tahun) (menurut perhitungan singkat penulis mencapai Rp.156.000 / tanaman/25 tahun), maka berapa opportunity cost yang terjadi?

Opportunity cost yang terjadi akibat terjadinya penyimpangan varietas yang dihasilkan ternyata belumlah seberapa jika tanaman dalam suatu kebun kelapa sawit bersifat super semua. Jika dilakukan pengamatan di lapangan, maka kita akan selalu mendapati adanya pohon yang bersifat super atau bersifat sangat buruk. Suatu pohon kelapa sawit yang bersifat super dapat memiliki berat tandan mencapai 30-45 Kg/tandan yang memenuhi setiap ketiak pelepahnya, meskipun umur tanaman masih 5-7 tahun. sedangkan untuk tanaman yang berumur lebih dari 10 tahun bobot tandannya dapat mencapai 40-60 Kg/tandan dengan buah yang menjejali setiap celah pelapah yang ada. Kondisi pohon yang demikian tidaklah akibat pemupukan, kondisi tanah dan perawatan yang habis-habisan, karena secara pengamatan visual pohon super tersebut berada di tengah pohon-pohon lainnya yang kondisinya biasa saja ataupun buruk.
Buah sawit 40 kg/tandan

Oleh karena ternyata ada pohon sawit yang bersifat super dalam hal bobot tandan, kuantitas tandan, rendemen minyak, ketahan terhadap hama dan penyakit, ukuran pelepah, kekerasan pelepah, pertambahan tinggi batang, toleransi terhadap jenis tanah, toleransi terhadap drainase yang sangat buruk, toleransi terhadap pH tanah yang tidak sesuai, maka tentu saja akan sangat diharapkan jika seluruh tanaman yang ada dalam suatu kebun adalah sama persis dengan pohon super tersebut. Saat ini mungkin ada cara yang memungkinkan hal tersebut dapat terjadi, yaitu dengan cara dilakukannya perbanyakan secara vegetatif.

Perbanyakan secara vegetatif yang telah berhasil pada tanaman kelapa sawit adalah dengan cara kultur jaringan.
Sebagai sel induk dalam kultur jaringan dapat digunakan dari sel akar (metode Inggris) dan sel daun (metode Perancis). Metode kultur jaringan akan mampu menghasilkan bibit tanaman dengan sifat yang sama dengan induknya dengan jumlah yang sangat banyak, hanya saja kelemahannya adalah membutuhkan waktu yang cukup lama dalam hal replikasi sel dan pembesarannya.

Benih kelapa sawit tidak dapat diproduksi dan dipasarkan secara sembarangan, tetapi harus mendapat sertifikasi dari pemerintah untuk menjamin mutu bibit yang diproduksi dan keaslian varietas bibit. Saat ini pihak yang telah mendapat izin resmi dari pemerintah adalah Perkebunan Marihat dan Socfindo.


LAND CLEARING / PERSIAPAN LAHAN

Sebelum tanaman kelapa sawit ditanam, maka hal utama dan sangat menentukan kesuksesahan bisnis budidaya kelapa sawit adalah pada tahap land clearing. Suatu lahan kebun yang baik adalah jika memiliki saluran drainase yang berfungsi dengan baik, memiliki jalan yang kuat dan rata untuk kegiatan melangsir buah ataupun truk pengangkutan, bersih dari tunggul-tunggul kayu yang mengganggu dalam bekerja, bebas dari pohon-pohonan dan semak belukar, adanya akses jalan darat ke setiap tanaman, bebas dari batu-batu besar yang mengganggu posisi penanaman dan pekerjaan.

Pengerjaan land clearing dapat dilakukan secara mekanis dan manual. Secara mekanis land clearing dikerjakan dengan alat-alat berat seperti Back Hoe, Buldozer dan Grader. Secara manual land clearing dikerjakan oleh manusia dengan peralatan sederhana berupa parang, kampak, gergaji, machine saw, cangkul, tembilang, babat.

Jika ditinjau secara ekonomis, penggunaan cara mekanis ataupun manual harus memperhatikan pada beberapa faktor, yaitu:
1.Jauhnya jarak tempuh untuk mendatangkan alat-alat berat
2.Luasnya lahan
3.Tingkat kesulitan pekerjaan
4.Tingkat standar upah buruh lokal
5.Ketersediaan buruh
6.Biaya sewa/harga beli alat berat
7.Kebijakan dan peratruran pemerintah
8.Harga BBM dan oli mesin traktor
9.Tingkat upah operator traktor
10.Produktifitas kerja traktor
11.Produktifitas tenaga kerja manusia

COVER CROP / TANAMAN PENUTUP

Sebelum bibit kelapa sawit ditanam di lahan, satu hal yang sangat penting ada adalah tanaman penutup / cover srop, cover crop berfungsi untuk melindungi tanah dari kikisan air hujan, menjaga tumbuhnya gulma-gulma yang tidak diinginkan, menjaga ketersediaan unsur Nitrogen dalam tanah, mendinginkan tanah, sebagai tempat yang baik untuk berbiaknya mikroba-mikroba pengurai dan penyubur tanah
BUDIDAYA TANAMAN KELAPA SAWIT
A. PEMBIBITAN

Pembibitan sebaiknya dilaksanakn di dekat daerah penanaman, agar proses transport bibit ke lubang tanam dapat diminimalkan sehingga kerusakan bibit juga semakin sedikit. Bibit yang digunakan adalah berupa kecambah. Bibit kelapa sawit yang digunakan sebaiknya berasal dari produsen benih yang telah terpercaya kualitas tanamannya, contohnya bibit dari Marihat, Socfindo, Supergene (Malaysia), dan bibit dari Australia.

Lahan untuk lokasi pembibitan adalah 10% dari luas lahan yang akan ditanami oleh bibit tersebut. Lahan tersebut dipersiapkan bersamaan dengan proses land clearing keseluruhan.

Kecambah ditanam di polibag ukuran 1 liter, pada umur umur 3bulan dipindahkan ke polibag 3 liter, pada umur 6 bulan dipindahkan ke polibag 9 liter. Bibit dapat dipingahkan ke lapangan saat berumur 9-12 bulan.

B. PENGAJIRAN
Pengajiran dapat dilakukan dengan menggunakan tiang pancang sepanjang 1,5m yang ditancapkan di titik yang telah detentukan untuk ditanami kelapa sawit. Jarak tanam yang digunakan antara lain 8,5mx9m, 9mx9m, 10mx10m, ata 11mx11m. Sudut antara satu baris dengan baris lainnya adalah 60 derajat, agar dapat dicapai efisiensi lahan yang maksimal

C. TERASERING
Terasering adalah pembuatan dataran/teras untuk lahan yang bertopografi miring. Terasering dapat dilakukan dengan cangkul ata menggunakan traktor.


D. PENANAMAN COVER CROP
Penanaman cover crop sangat penting untk menekan pertumbuhan gulma dan dapat meningkatkan bahan organik serta gas nitrogen dalam tanah. Tanaman cover crop yang sering digunakan antara lain pueraria javanica, centrosema pubescens


E. PENANAMAN TANAMAN KELAPA SAWIT
Tanaman kelapa sawit dapat ditanam setelah dilakukan pembuatan lubang danam dengan ukuran 90x90x90cm.

F. PENANGANAN GULMA
Gulma dapat ditangani dengan melakukan pembabatan dengan babat tangan ataupun mesin babat, dengan menggunakan herbisida, atapun menggunakan predator alami seperti kambing, kerbau, sapi, dan rusa.


Jenis-jenis gulma antara lain sebagai berikut :
Gulma pakis raja
Gulma rumput bendera

Gulma pohon

gulma pohon di batang kelapa sawit

Gulma berbatang alot



PEMUPUKAN

Tanaman kelapa sawit seringkali merupakan tanaman yang sangat tergantung pada pemupukan untuk mencapai produksi yang tinggi, meskipun dapat ditemui kebun kelapa sawit yang dapat mencapai produksi rata-rata 3 ton/ha/bulan meskipun tanpa diberi pupuk sedikitpun. Secara logika, kebunkelapa sawit yang baik diharapkan dapat berproduksi TBS sebanyak 3-5 ton/bulan, dengan rendemen minyak mencapai 21%, maka produksi CPO adalah 6,3-10,5 ton/bulan, nilai kalori lemak adalah yang paling tinggi di antara zat gizi lainnya, yaitu 9,4 kalori/mg asam lemak, maka nilai energi yang dihasilkan dari satu hektar kebun sawit adalah luar biasa besarnya. Energi tersebut dapat digunakan sebagai zat gizi, bahan bakar, atau fungsi lainnya. Maka tidaklah wajar jika hasil produksi yang sedemikian besar tersebut hanya kita harapkan dari sang tanaman kelapa sawit dan tanah yang menyangganya tanpa ada sumbangsih dari kita yang menjadikannya sebagai "sapi perah".

Tujuan umum dari pemupukan adalah memberikan zat hara yang dibutuhkan tanaman dalam membangun jaringan akar, batang, daun dan buah.

Pada saat kelapa sawit berupa TBM (Tanaman Belum Menghasilkan), tujuan pemupukan ada untuk menjadi bahan baku dan penolong dalam pembangunan tubuh tanaman, sedangkan pada saat kelapa sawit berupa TM (Tanaman Menghasilkan), tujuan pemupukan adalah agar tanaman kelapa sawit memproduksi buah dengan optimal.

Berdasarkan banyaknya kuantitas yang dibutuhkan tanaman, pupuk dapat dibagi atas 2 golongan, yaitu: pupuk makro dan pupuk mikro.

Pupuk makro adalah pupuk yang mengandung unsur makro (unsur yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar). Unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar antara lain adalah :

Nitrogen (N), dapat diperoleh dari pupuk Urea (46% N), ZA ( %N)
Posphor (P), dapat diperoleh dari pupuk TSP (46% P), Rock Posphat ( % P)
Kalium (K), dapat diperoleh dari pupuk KCl (64% K)
Magnesium (Mg), dapat deperoleh dari pupuk Kieserit ( % Mg)


PANEN

Untuk dapat berbunga, kelapa sawit membutuhkan waktu 2-3 tahun dari saat bibit ditanam di lapangan. Masa produktif tanaman dapat berlangsung 40-50 tahun. Pembentukan buah memerlukan waktu sekitar 6 bulan setelah terjadinya penyerbukan (pollination). Pelaksanaan panen buah kelapa sawit tidak boleh dilakukan secara sembarangan, karena kegiatan panen tersebut menentukan pada produktifitas tanaman, rendemen minyak, mutu minyak, dan efisiensi biaya tenaga kerja. Pelaksanaan panen harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:

1. Kriteria Matang Panen

Buah yang dapat dipanen haruslah buah yang daging buahnya telah berwarna kemerah-merahan/orange, dimana ada jenis buah yang meskipun kulit luarnya telah berwana kemerah-merahan tetapi ternyata daging buahnya belum matang (belum berwarna kemerah-merahan). Adapun kriteria umum yang digunakan dalam menentukan buah sawit yang layak panen adalah berdasakan pada jumlah berodolan yang telah jatuh di piringan. Kriteria jumlah berondolan dalam menentukan buah layak panen dapat dilihat pada tabel berikut:





Tabel Kriteria Kematangan Buah Berdasarkan Jumlah Berondolan

No


Umur Tanaman (tahun)


Buah Memberondol (butir)


1


Tanaman muda (3,5-5 tahun)


2


2


Tanaman sedang (5-10 tahun)


5-10


3


Tanaman dewasa (>10 tahun)


15-20


2. Rotasi dan Sistem Panen

Yang dimaksud dengan rotasi panen adalah waktu yang diperlukan antara suatu panen dengan panen berikutnya pada suatu area panen. Rotasi panen yang baik adalah jika buah yang dipanen tidak kurang atau terlalu matang. Rotasi panen yang sering dilakukan adalah tiap 7, 10 atau 14 hari sekali.

3. Cara Pengambilan Buah

Cara pelaksanaan panen yang baik adalah salah satu syarat dalam menentukan produktifitas dan efisiensi dari suatu usaha kebun kelapa sawit. Ada suatu sistem dalam hal menjaga jumlah optimum daun pada pohon kelapa sawit, dan rumus dari jumlah daun optimum tersebut sering disebut dengan sistem "Songgo Dua", yaitu selalu ada dua unit pelepah daun yang menyangga buah sawit pada posisi yang paling bawah. Oleh karena itu maka dalam mengambil buah tidak boleh ikut memotong pelepah yang menyangganya, cara pengambilan buah tersebut sering disebut dengan cara "curi buah/culik buah".
Alat yang baik digunakan dalam memanen buah sawit adalah Dodos (untuk buah yang berada pada ketinggian <5>

HAL-HAL TERPENTING DALAM BERBISNIS KEBUN KELAPA SAWIT SKALA KECIL (4-40 Ha)

  1. Angkat penjaga kebun dengan memenuhi syarat mutlak, yaitu jujur, rajin, mau diatur, konsentrasinya tidak terpecah selain dari bekerja di kebun.
  2. Buat dan beri sistem penggajian yang menarik dan memotifasi untuk bekerja dengan tekun dan giat, misalnya adanya bonus atas tercapai/terlampauinya target produksi.
  3. Upayakan agar dapat memelihara kambing di kebun tersebut, karena dapat membantu mengendalikan rumput dan menjaga gairah hidup penjaga kebun, karena kambing dapat juga berfungsi sebagai teman jika bekerja dalam kesunyian kebun. Setiap hari raya penjaga kebun tersebut mendapat setengah bagian dari anak kambing yang lahir sebagai penarik agar tetap serius mengurus kambing tersebut.

DEFINISI

Dodos
: Dodos adalah alat memotong tandan buah kelapa sawit yang posisi buahnya kurang dari 5m
Egrek
: Egrek adalah alat pemotong tangkai tandan sawit yang posisi buahnya lebih tinggi dari 5m
Pasar Pikul
: Pasar pikul adalah jalan diantara pohon kelapa sawit dimana para pemanen melewatinya saat panen. Pada pasar pikul ini tidak ada penghalang apapun untuk dijalani, seperti pelepah sawit, batu, lubang, rumput yang tinggi, dan lain sebagainya.
Culik buah/Curi Buah
: Culik buah adalah kegiatan memanen buah sawit tanpa memotong pelepahnya, sehingga jumlah pelepah pohon sawit tidak berkurang dari jumlah yang optimal

TBS
: TBS adalah singkatan dari tandan buah segar, yaitu buah sawit yang telah matang dan telah dipotong dari pohonnya.
CPO
: CPO adalah singkatan dari Crde Palm Oil, yang berarti minyak sawit mentah. Yaitu hasil pemerasan dari TBS yang dilakukan di pabrik kelapa sawit. CPO ini belum diperuntukkan untuk dikonsumsi karena masih mengandung ampas dari buah sawit, air, tanah, pasir, dan lainnya sehingga masih perl melewati proses pemurnian.

PKO
: PKO adalah singkatan dari Palm Kernel Oil, yaitu minyak yang diperoleh dari pemerasan inti yang terdapat pada biji kelapa sawit. Inti kelapa sawit memilik bentuk dan rasa seperti daging buah kelapa, tetapi dengan tingkat kekerasan yang lebih tinggi.
PKS
 PKS adalah singkatan dari Pabrik Kelapa Sawit, dimana TBS diolah agar menjadi CPO.

Read more »»  

Diberdayakan oleh Blogger.

Search

Memuat...